Selasa, 20 Desember 2011

Tugas lanjutan TKI, aku ngambil konsep Maqamat :P


KONSEP MAQAMAT MENURUT ABU NASR AL-SARRAJ AL-TUSI
Resume (Sumuh, “Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam”)
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Tasawuf
Pengampu: Bp. Safrudin, M. Ag

Disusun Oleh: Lailaturrofiqoh
                        101211062

            Harun Nasution dalam bukunya falsafat dan mistisme dalam islam mengatakan: “Buku-buku tasawuf tidak selamanya memberikan angka dan susunan yang sama tentang station-station (maqam-maqam) ini”. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam bukunya kitab al-luma’ fit tasawwuf. Di terangkan adanya tujuh maqam secara urut yang masing-masingnya umum terdapat dalam kitab-kitab lainya. Ketujuh maqam itu ialah:
1. Maqam Taubat.
            Bagi golongan khowas atau orang yang telah sufi, yang di pandang dosa adalah ghoflah (lalai mengingat tuhan). Karena taubat menurut sufi terutama taubat dari ghoflah, maka kesempurnaan taubat menurut ajarann tasawuf adalah apabila telah tercapai maqam “attaubatu min taubatihii” yakni mentaubati terhadap kesadaran keberadaan dirinya dan keasadaran akan taubatnya itu sendiri.
2. Maqam wara’
            Wara’ adalah meninggalkan setiap yang berbau syubhat (segala hal yang belum jelas haram dan halalnya.) dan meninggalkan apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan berbagai macam kesenangan.
            Pada hadist lain nabi bersabda yang artinya “hendaknya kamu menjalankan laku wara’, agar kamu jadi ahli ibadah”. Laku hidup wara’ memang penting bagi perkembangan mentalitas ke-islaman, apalagi bagi tasawuf. Wara’ itu ada dua tingkat, wara’ segi lahir yaitu hendaklah kamu tidak bergerak terkecuali untuk ibadah kepada Alloh. Dan wara’ batin, yakni agar tidak masuk dalam hatimu terkecuali Alloh ta’ala.
3. Maqam zuhud
            Zuhud pada dasarnya adalah tidak tamak atau tidak ingin dan tidak mengutamakan kesenangan duniawi.
            Dalam tasawuf zuhud dijadikan maqam dalam upaya melatih diri dan menyucikan hati untuk melepas ikatan hati dengan dunia. Pada dasarnya dibedakan:
Misalnya Abu Sulaiman aal-Darani mengatakan :
“Sufi itu suatu ilmu dari ilmu-ilmu tentang zuhud. Maka tidak pantas mengenakan kain suf dengan uang tiga dirham di tanganya kok dalam hatinya menginginkan lima dirham”.
Pada tempat lain Abu Sulaiman al-Darani mengatakan :
“zuhud adalah meninggalkan segala yang melalaikan hati dari Alloh”.
Ruwaim mengatakan:
“zuhud adalah memandang kecil arti dunia dan menghapus pengaruhnya dari hati”.
 4. Maqam Fakir
            Maqam fakir merupakan perwujudan upaya “tathir al-qolbi bi ‘l-kulliyati’an ma siswa ‘llah”. Yaitu penyucian hati secara keseluruhan terhadap apa yang selain Tuhan. Inilah ajaran qath’u al-ala’iq atau tajrid yakni ajaran untuk membelakangi atau membuang dunia.
Al-Ghozali menganjurkan atau mengajarkan untuk membuang dunia itu sama sekali. Maka fakir di rumuskan dengan “tidak punya apa-apa dan juga tidak menginginkan apa-apa”.n.
5. Maqam Sabar
            Dalam islam mengendalikan diri untuk laku sabar merupakan tiang bagi akhlak mulia. Dalam al-Qur’an dinyatakan sabar merukan laku yang terpuji dan merupakan perintah suci agama.
            Jadi penguasaan diri dan bersabar dalam waktu mengalami kesempitan, susah, penderitaan, tantangan dan perang, adalah mentalitas Islam. Sikap sabar di tinggikan sebagai mentalitas sikap seorang mukmin dan muttqin, seperti di jelaskan dalam surat Al-Baqarah, ayat 153 yang artinya “hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar”.
            Jadi dengan maqam sabar para sufi memang telah menyengaja dan menyiapkan diri dengan seribu satu kesulitan dan derita dalam hidupnya dengan sikap sabar, tanpa ada kesulitan. Itulah laku maqam sabar di dalam tasawuf.
6. Maqam Tawakkal
            Dalam syariat islam diajarkan bahwa tawakkal dilakukan sesudah segala daya upaya dan ikhtiar dijalankanya. Jadi yang ditawakkalkan atau digantungkan pada rahmat pertolongan Alloh adalah hasil usahanya sesudah segala ikhtiar dilakukanya. Yakni tawakkal yang di landasi oleh aktif kerja keras. Tasawuf menjadikann maqam tawakkal sebagai wasilah atau sebagai tangga untuk memalingkan dan menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin dan memikirkan keduniaan serta apa saja selain Alloh. Oleh karena itu sesuai cita ajaran tasawuf tawakkal dijadikan prinsip ajaran yang mengarah ke paham jabbariyah mutlak. Yakni tawakkal tanpa memikirakan usaha, orang  harus sepenuhnya mengantungkan diri sepenuhnya kepada takdir dan pemeliharaan langsung dari Alloh.
7. Maqam Ridlo
            Setelah mencapai maqam tawakkal, nasib hidup mereka bulat-bulat diserahkan pada pemeliharaan dan rahmat Alloh, meniggalkan membelakangi segala keinginan terhadap apa saja selain Tuhan, maka harus segera diikuti menata hatinya untuk mencapai maqam. Maqam ridlo adalah ajaran menanggapi dan mengubah segala bentuk penderitaan, kesengsaraan, dan kesusahan, menjadi kegembiraan dan kenikmatan. Yakni sebagaimana di katakana imam ghozali, rela menerima apa saja.

Kamis, 15 Desember 2011


MASYARAKAT DAN KONSUMSI MEDIA

MAKALAH
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Komunikasi Massa
Dosen Pengampu: Ibu Siti Sholihati, Hj., Dra., M. A.




Disusun oleh:

LAILATURROFIQOH
(101211062)





FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI WALISONGO
SEMARANG
2011


MASYARAKAT DAN KONSUMSI MEDIA

I.            PENDAHULUAN
Komunikasi massa adalah proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik). Organisasi - organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat. Dalam komunikasi masa, media masa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak.[1]
Dengan adanya komunikasi massa menimbulkan budaya baru yang tumbuh dalam masyarakat, yaitu konsumsi media yang menjadi trend atau konstruksi social. Masyarakat menjadikan media massa sebagai bagian hidup yang tidak mungkin untuk dihilangkan lagi dari kehidupannya. Bahkan, tidak jarang banyak yang meggunakan media massa sebagai aktivitas kesehariannya. Sebagai seorang yang bekerja di perusahaan media, tentu jelas mereka menghabiskan waktu dan kegiatannya di tempat tersebut, sedangkan sebagai masyarakat penikmat acara media tidak jarang menghabiskan waktunya berjam-jam dengan tayangan kesukaan mereka.

II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Pengaruh media terhadap masyarakat?
B.     Teori media dan masyarakat?
C.     Konsumsi media dalam masyarakat?
D.    Fenomena konsumsi media massa dalam masyarakat?

III.            PEMBAHASAN
A.    Pengaruh Media Terhadap Masyarakat
Media massa sebagai sebuah fenomena yang tidak bisa dihindarkan lagi dari kehidupan masyarakat menjadi salah satu trend seter yang mampu membawa dampak.  Dampak buruk media massa adalah kekuatan media dalam mengubah dan membentuk gaya hidup seseorang. Sejumlah peneliti mengungkapkan, menonton telivisi secara berlebihan di kalangan anak-anak bisa menyebabkan cara hidup yang pasif dan malas bergerak pada anak-anak. Hal ini mengakibatkan munculnya gejala semacam kegemukan, kebisaaan makan yang salah, naiknya kolesterol, penyakit pencernaan, dan gangguan psikologis.
Meski demikian, media massa juga bisa berperan positif bagi masyarakat. Karena itu, masalah kesehatan sosial masyarakat harus kita kaji dari beragam sisi. Dari sisi moral, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, semacam cinta sesama manusia, menghormati hak-hak orang lain, menyebarnya tradisi saling memaafkan dan mengasihi. Terkait hal ini, media massa bisa berperan positif dalam menyebarkan dan membumikan nilai-nilai moral. Penayangan acara yang mendidik namun menghibur merupakan salah satu cara efektif bagi media untuk membangun masyarakat yang sehat. [2]
Media massa juga bisa berperan sebagai sumber rujukan di bidang pendidikan dan penyebaran informasi yang cepat. Dalam hal ini, media dapat meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat. Sekarang ini, media memiliki andil yang penting dalam mengajak masyarakat untuk memerangi kekerasan, dan tindak kriminalitas. Media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah prilaku masyarakat.
B.     Teori Media dan Masyarakat
Institusi media menyelenggarakan produksi, reproduksi dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian simbol yang mengandung acuan bermakna tentang pengalaman dalam kehidupan sosial. Media massa memiliki peran mediasi (penengah/penghubung) antara realitas sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. Media massa berperan sebagai penengah dan penghubung dalam pengertian bahwa: media massa seringkali berada diantara kita; media massa dapat saja berada diantara kita dengan institusi lainnya yang ada kaitannya dengan kegiatan kita; media massa dapat menyediakan saluran penghubung bagi pelbagai institusi yang berbeda; media juga menyalurkan pihak lain untuk menghubungi kita, dan menyalurkan kita untuk menghubungi pihak lain; media massa seringkali menyediakan bahan bagi kita untuk membentuk persepsi kita terhadap kelompok dan organisasi lain, serta peristiwa tertentu. Melalui pengalaman langsung kita hanya mampu memperoleh sedikit pengetahuan.
Media juga menerima sejumlah tanggung jawab untuk ikut aktif melibatkan diri dalam interaksi sosial dan kadang kala menunjukkan arah atau memimpin, serta berperan serta dalam menciptkan hubungan dan integrasi. Konsep media sebagai penyaring telah diakui masyarakat, karena media seringkali melakukan seleksi dan penafsiran terhadap suatu masalah yang dianggap membingungkan.[3]
 
A.    Konsumsi Media dalam Masyarakat

Sebagaimana diketahui, pemilihan dan penerimaan suatu pesan dipengaruhi oleh lingkup referensi dan pengalaman, sehingga akan sangat menentukan pilihan dari tayangan atau berita yang diambil suatu masyarakat terhadap informasi media massa.[4]
Hubungan antara media dan konsumsinya masyarakat tergantung pada situasi ruang dan waktu. Konteks sosial yang dikarakterisasi oleh kesejahteraan ekonomi dan kekuasaan politik yang berbeda antara kelas sosial ekonomi yang satu dengan yang lain, mempengaruhi hubungi media dengan masyarakat. Ada dua pendekatan untuk melihat keterkaitan antara media dengan masyarakat. 


[1] Dr. Phil Astrid S. Susanto, Filsafat Komunikasi, (Bandung: Bina Cipta, 1976), hlm. 151
1.      Pendekatan Media Centric (Media Sentris).
Pendekatan ini memfokuskan pada otonomi dan pengaruh komunikasi serta aktivitas yang dilakukan oleh media. Media massa dianggap sebagai penyebab utama dari perubahan sosial, dan media sendiri sangat dikendalikan oleh perkembangan teknologi komunikasi.
2.      Pendekatan Society (Social) Centric (Masyarakat Sentris)
Pendekatan ini melihat media sebagai refleksi kekuatan ekonomi dan politik yang berlaku dalam masyarakat.[5]
Berrigan (1979), mendefinisikan media rakyat sebagai:
1.      Media yang bertumpu pada landasan yang lebih luas dari kebutuhan semua khalayaknya.
2.      Adaptasi media untuk digunakan oleh masyarakat yang bersangkutan, apapun tujuan yang ditetapkan oleh masyarakat.
3.      Media yang memberi kesempatan kepada warga masyarakat untuk memperoleh informasi, pendidikan, bila mereka menginginkan kesempatan itu.
4.      Media yang menampung partisipasi masyarakat sebagai perencanaan, produksi d pelaksana.
5.      Sarana bagi masyarakat untuk mengemukakan sesuatu, bahkan untuk menyatakan sesuatu untuk masyarakat.[6]
Berdasarkan pengertian diatas media akan mampu untuk memberikan penyegaran bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Berdasarkan sebuah kegiatan KMD (Koran Masuk Desa), menunjukan suatu realitas masyarakat dalam mengkonsumsi media. Isi pemberitaan yang terdapat Dalam media tersebut isi diprioritaskan kepada tokoh-tokoh desa karena dianggap oleh masyarakat sebagai pemuka desa yang berpengaruh. Demikian adalah table yang menunjukkan presentasi informasi yang menarik perhatian dari 570 sample jawaban:
No.
Jenis berita
Jumlah Penikmat
Prosentase
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Berita Daerah
Berita Ekonomi
Berita Ilmu Pengetahuan
Keterangan Pemerintah
Seni Budaya
Cerita Pendek
Ulasan dan Tanggapan
Berita Nasional & Luar Negri
128
89
70
66
65
62
41
49






20,09
13,97
10,99
10,36
10,20
9,73
6,59
7,69
%
%
%
%
%
%
%
%






                Sumber: Raka Wiratna, 1980 (setiap responden boleh memilih lebih dari satu jawaban).[7]
Media massa memberikan banyak pilihan kepada masyarakat untuk menentukan informasi apa yang akan mereka nikmati. Tidak hanya realitas pada media cetak namun pada media elektronik tidak akan jauh berbeda.
Dalam sosiologi komunikasi terdapat konseptualisasi sosiologis dan analisis sosiologis mengenai khalayak yang mampu melahirkan teori-teori baru. Bahwasanya masyarakat selalu memiliki kecenderungan untuk mencari informasi baru yang terkadang berbeda penyajiannya antara media yang satu dengan media yang lain. Hal ini berpengaruh terhadap struktur social maupun konsep social yang ada dalam masyarakat.[8]  
IV.            SIMPULAN
Media massa merupakan institusi untuk memproduksi informasi sesuai dengan kebijakan perusahaan yang memiliki keberagaman isi sesuai dengan konsumen yang mereka tuju. Masyarakat memiliki hak untuk memilih dan menentukan berita apa dan melalui media apa mereka akan memenuhi kebutuhan informasinya. Sehingga fenomena konsumsi media terbentuk oleh factor-faktor yang saling mempengaruhi yaitu media massa itu sendiri dan masyarakat yang akan memilih. Terkadang media massa membentuk konstruksi baru dalam masyarakat namun tidak jarang fenomena masyarakat menjadi pemberitaan yang diburu oleh banyak institusi media massa.


DAFTAR PUSTAKA

Wright, Charles R. 1985. Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: Remadja Karya.
Nurudin. 2005. System Komunikasi Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Susanto, Dr. Phil Astrid S. 1976. Filsafat Komunikasi. Bandung: Bina Cipta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_massa
           


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_massa
[2] http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=1330:pengaruh-media-massa-terhadap-masyarakat&catid=63:sosial&Itemid=69
[3] http://oliviadwiayu.wordpress.com/2006/12/08/teori-media-dan-teori-masyarakat-media/
[4] Dr. Phil Astrid S. Susanto, Filsafat Komunikasi, (Bandung: Bina Cipta, 1976), hlm. 151
[5] http://sosiologikomunikasi.blogspot.com/2005/02/media-massa-dan-masyarakat.html
[6] Nurudin, System Komunikasi Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005),  hlm. 102-103
[7] Ibid, hlm. 109
[8] Charles R. Wright, Sosiologi Komunikasi Massa, (Bandung: Remadja Karya, 1985), hlm. 135.