KONSEP
MAQAMAT MENURUT ABU NASR AL-SARRAJ AL-TUSI
Resume
(Sumuh, “Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam”)
Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah: Tasawuf
Pengampu: Bp.
Safrudin, M. Ag
Disusun Oleh: Lailaturrofiqoh
101211062
Harun
Nasution dalam bukunya falsafat dan mistisme dalam islam mengatakan:
“Buku-buku tasawuf tidak selamanya memberikan angka dan susunan yang sama
tentang station-station (maqam-maqam) ini”. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi
dalam bukunya kitab al-luma’ fit
tasawwuf. Di terangkan adanya tujuh maqam secara urut yang
masing-masingnya umum terdapat dalam kitab-kitab lainya. Ketujuh maqam itu
ialah:
1. Maqam Taubat.
Bagi golongan khowas atau
orang yang telah sufi, yang di pandang dosa adalah ghoflah (lalai mengingat
tuhan). Karena taubat menurut sufi terutama taubat dari ghoflah, maka
kesempurnaan taubat menurut ajarann tasawuf adalah apabila telah tercapai maqam
“attaubatu min taubatihii” yakni
mentaubati terhadap kesadaran keberadaan dirinya dan keasadaran akan taubatnya
itu sendiri.
2. Maqam wara’
Wara’
adalah meninggalkan setiap yang berbau syubhat (segala hal yang belum jelas
haram dan halalnya.) dan meninggalkan apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan
apa yang tidak perlu, yaitu meninggalkan berbagai macam kesenangan.
Pada
hadist lain nabi bersabda yang artinya “hendaknya kamu menjalankan laku wara’, agar kamu jadi ahli ibadah”. Laku
hidup wara’ memang penting bagi perkembangan mentalitas ke-islaman, apalagi
bagi tasawuf. Wara’ itu ada dua tingkat, wara’ segi lahir yaitu hendaklah kamu
tidak bergerak terkecuali untuk ibadah kepada Alloh. Dan wara’ batin, yakni
agar tidak masuk dalam hatimu terkecuali Alloh ta’ala.
3. Maqam zuhud
Zuhud pada dasarnya adalah tidak
tamak atau tidak ingin dan tidak mengutamakan kesenangan duniawi.
Dalam
tasawuf zuhud dijadikan maqam dalam upaya melatih diri dan menyucikan hati
untuk melepas ikatan hati dengan dunia. Pada dasarnya dibedakan:
Misalnya Abu Sulaiman aal-Darani mengatakan :
“Sufi itu suatu ilmu dari ilmu-ilmu tentang zuhud. Maka
tidak pantas mengenakan kain suf dengan uang tiga dirham di tanganya kok dalam
hatinya menginginkan lima dirham”.
Pada tempat lain Abu Sulaiman al-Darani
mengatakan :
“zuhud adalah meninggalkan segala yang melalaikan hati
dari Alloh”.
Ruwaim mengatakan:
“zuhud adalah memandang kecil arti dunia dan menghapus
pengaruhnya dari hati”.
4.
Maqam Fakir
Maqam
fakir merupakan perwujudan upaya “tathir
al-qolbi bi ‘l-kulliyati’an ma siswa ‘llah”. Yaitu penyucian hati
secara keseluruhan terhadap apa yang selain Tuhan. Inilah ajaran qath’u al-ala’iq atau tajrid yakni ajaran untuk
membelakangi atau membuang dunia.
Al-Ghozali menganjurkan atau mengajarkan untuk
membuang dunia itu sama sekali. Maka fakir di rumuskan dengan “tidak punya
apa-apa dan juga tidak menginginkan apa-apa”.n.
5. Maqam Sabar
Dalam
islam mengendalikan diri untuk laku sabar merupakan tiang bagi akhlak mulia.
Dalam al-Qur’an dinyatakan sabar merukan laku yang terpuji dan merupakan
perintah suci agama.
Jadi
penguasaan diri dan bersabar dalam waktu mengalami kesempitan, susah,
penderitaan, tantangan dan perang, adalah mentalitas Islam. Sikap sabar di
tinggikan sebagai mentalitas sikap seorang mukmin dan muttqin, seperti di
jelaskan dalam surat Al-Baqarah, ayat 153 yang artinya “hai orang-orang yang beriman, jadikanlah
sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Alloh bersama orang-orang
yang sabar”.
Jadi
dengan maqam sabar para sufi memang telah menyengaja dan menyiapkan diri dengan
seribu satu kesulitan dan derita dalam hidupnya dengan sikap sabar, tanpa ada
kesulitan. Itulah laku maqam sabar di dalam tasawuf.
6. Maqam Tawakkal
Dalam
syariat islam diajarkan bahwa tawakkal dilakukan sesudah segala daya upaya dan
ikhtiar dijalankanya. Jadi yang ditawakkalkan atau digantungkan pada rahmat
pertolongan Alloh adalah hasil usahanya sesudah segala ikhtiar dilakukanya.
Yakni tawakkal yang di landasi oleh aktif kerja keras. Tasawuf menjadikann
maqam tawakkal sebagai wasilah atau sebagai tangga untuk memalingkan dan
menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin dan memikirkan
keduniaan serta apa saja selain Alloh. Oleh karena itu sesuai cita ajaran
tasawuf tawakkal dijadikan prinsip ajaran yang mengarah ke paham jabbariyah mutlak. Yakni
tawakkal tanpa memikirakan usaha, orang harus sepenuhnya mengantungkan
diri sepenuhnya kepada takdir dan pemeliharaan langsung dari Alloh.
7. Maqam Ridlo
Setelah
mencapai maqam tawakkal, nasib hidup mereka bulat-bulat diserahkan pada
pemeliharaan dan rahmat Alloh, meniggalkan membelakangi segala keinginan
terhadap apa saja selain Tuhan, maka harus segera diikuti menata hatinya untuk
mencapai maqam. Maqam ridlo adalah ajaran menanggapi dan mengubah segala bentuk
penderitaan, kesengsaraan, dan kesusahan, menjadi kegembiraan dan kenikmatan.
Yakni sebagaimana di katakana imam ghozali, rela menerima apa saja.